Renungan Si Mahasiswa


Kehidupan yang ada saat ini adalah sebuah kesempatan. Kesempatan untuk melihat dunia, merasakan arti hidup, serta kesempatan bertemu dengan sesama, dan lain-lain. Kesempatan tersebut tidak diraih begitu saja, ada sebuah proses yang harus dijalani untuk meraihnya dan tidak semuanya proses tersebut berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Berbagai macam hal akan ditemui dalam proses tersebut, baik suka maupun duka. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman yangcukup tentang kehidupan yang kita jalani, tentunya pemahaman tersebut adalah dengan ilmu.

Ilmu diperoleh dari kumpulan pengetahuan yang kita miliki, sedangkan pengetahuan diperoleh dari pengalaman kita. Oleh karena itu bagaimana mungkin kita dapat menjalani kehidupan tanpa pengetahuan tentangnya. Dengan ilmu, proses perjalanan hidup dapat dilalui dengan baik. Namun, bukan itu saja yang kita butuhkan dalam hidup ini, masih banyakperalatan hidup yang harus dimiliki, walaupun kemungkinan untuk memiliki semuanya itu kecil karena tidak ada yang sempurna dalam diri manusia.

Tiap-tiap manusia memiliki perbedaan dalam menjalani hidupnya dalam hal ini setiap  manusia tidak mungkin sama dalam memakai peralatan hidup tersebut karena tidak semua cocok dipakai oleh semua manusia. Berbagai macam akibat dari proses kehidupan dijalani sebagai proses untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih tinggi yang telah dijanjikan oleh sang pencipta. Namun ada satu hal yang perlu diingat bahwa untuk mencapai kehidupan tingkat kehidupan yang lebih tinggi yang merupakan tujuan kehidupan kita tidak harus melewati proses kehidupan ini dengan sikap pasif terhadap sekutar kita atau dapat kita sebut sikap berdsikap individualistis tanpa mementingkan kehidupan disekeliling kita.

Menjalani hidup dengan sikap tersebut membuat kita tersisihkan dari proses kehidupan, karena manusia  adalah mahluk sosial, oleh  karenanya harus peka terhadap problem sosial yang terjadi di sekitarnya. Untuk melihat problem social tidak perlu jauh-jauh karena ada hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita yang perlu dibenahi. Problem  sosial yang besar terjadi akibat adanya problem sosial yang kecil.

Problem sosial tersebut bersifat kolektif, namun kadangkala problem social tersebut bersumber dari  problem kehidupan individu. Mengutip firman Tuhan bahwa,suatu kaum tidak mungkin berubah sebelum diri mereka berubah terlebih dahulu. Proses berubah dari segi individu inilah yang pertama harus dilakukan tentunya untuk merubah sebuah masyarakat. Perubahan untuk individu dapat dilakukan dengan memperbanyak pemahaman/ ilmu yang kita miliki, serta penguatan dari  sisi kerohanian kita dan lain sebagainya. Pemahaman yang kita miliki tentunya harus  diamalkan untuk mengatasi problem sosial kemasyarakatan disekitar kita. Proses untuk merubah individu tersebut jangan sampai terlalu berlebihan, yang berakibat pada terlupakannya hal-hal yang bersifat segera disekitar  kita,olehnya itu harus ada keseimbangan antara ILMU,IMAN dan AMAL.  

Pada saat ini berbagai macam problem sosial kemasyarakatan yang terjadi disekitar kita seperti kemiskinan,penganguran, pemerataan pendidikan dan pembangunan serta masalah ekonomi dan hukum. Keseluruhan problem tersebut membuat kita tidak mampu untuk mencapai kehidupan bermasyarakat yang baik tentunya hal ini berpengaruh terhadap kehidupan tiap individu di masyarkat tersebut.Problema sosial yang terjadi di masyarakat tersebut terjadi akibat tidak adanya suatu sistem yang baik  ataupun kalau ada sistem tersebut ada penyelenggara sistem tersebut tidak mampu melaksanakan dengan baik karena kurangnya pemahaman serta adanya krisis moral dalam diri para penyelenggara tersebut. Seperti yang sudah dikemukakan beberapa kali dalam tulisan ini bahwa pemahaman  (ilmu) menjadi sesuatu yang penting dalam mengatasi problem sosial. Namun yang terjadi hal tersebut juga menjadi sebuah problem dimana untuk mendapatkannya pada saat ini sangat susah sekali walaupun kita berada di sebuah negeri yang konstitusinya memberikan anggaran yang besar terhadap dunia pendidikan. 

Hal tersebut ternyata hanya sebatas diatas kertas tanpa bentuk yang nyata di lapangan. Problema sosial masyarakat yang lain seperti perekonomian dan pembangunan yang terjadi akibat  sebuah sistem sosial yang tidak adil dinegeri yang berdasarkan hukum ini. Sistem yang di buat hanya menjalankan sebuah sistem keadilan formil tanpa keadilan materil yang artinya diatas keadilan itu ada tetapi dikehidupan sehari-hari sama sekali tidak terjadi.  Keadilan tersebut diperparah dengan sitem bangsa yang katanya demokratis tetapi yang terjadi adalah system demokrasi hayalan dimana rakyat hanya memiliki kedaulatan sekali dalam lima tahun yaitu dalam pemungutan suarapada saat pemilu selebihnya kedaulatan berada di tangan para pejabat pemerintah dengan program untuk kepentingan pribadi.

Melihat berbagai permasalahan diatas tentunya harus ada sebuah pendidikan yang dalam hal ini bukan pendidikan komersil tetapi pendidikan murah yang mampu membentuk sebuah kesadaran kolektif dimasyarakat untuk mengatasi pemasalahan yang terajadi dalam kehidupan bermasyarakat. Pembentukan kesadaran kolektif masyarakat yang saat ini banyak dilakukan berbagai pihak secara swadaya ternyata juga di kotori oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang dalam melaksanakan perjuangannya juga berpikir pragmatis dengan tujuan bahkan menjadi anak didik negeri asing yang masih saja menginginkan keuntungan dari negeri kita yang kaya raya ini.  

Kekayaan alam yang melimpah ruah di negeri ini semestinya dapat menjadi sebuah solusi terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi ketika kita mengelolanya dengan baik tetapi lagi-lagi kita harus mengigit jari melihat negeri asing yang mengelola, yang tentunya keuntugan besar mereka peroleh sementara negeri kita tidak tahu dapat berapa karena menguap terlebh dahulu dalam kantong birokrasi korup.  Korupsi menjadi salah satu masalah besar yang menjadi headline diberbagai media masa baik lokal maupun nasional. 


Masalah hukum yang satu ini dilihat berbagai kalangan sudah menjadi budaya dalam masyarakat, bagaimana tidak menjadi sebuah  budaya dalam masyarakat ketika sistem bergerak kearah korup. Berbagai macam peraturan perundangan yang dibuat untuk mengatasi korupsi juga dengan berbagai macam lembaga yang dibentuk untuk pemberantasan korupsi serta lembaga-lembaga pengawas yang tentu saja dengan anggaran yang tidak kecil.  Korupsi yang terjadi akibat sistem yang bergerak kearah tersebut . sistem (peraturan perUUan) dibuat sedemikian rupa untuk memuluskan langkah para pejabat korup ini tuk semakin menggerogoti keuangan negara. Para pejabat sistem atau disebut legislator dalam sebuah dewan perwakilan rakyat adalah hasil dari pemilu yang juga korup dengan money politiknya.
Partai politik sebagai pemain utama dalam pemilu tersebut ternyata sudah jauh dari cit-cita / hakikat pembentukan sebuah partai politik. Parpol seharusnya melakukan pendidikan politik kepada masyarakat ternyata melakukan pendidikan politik yang tidak sehat akibatnya malah menambah kebobrokan yang terjadi di tataran birokrasipemerintahan dengan kebobrokan yang juga terjadi dalam masyarakat. Lengkap sudah jalan menuju kehancuran ini dengan segala kebobrokan dengan segala tingkatan. Dengan partai politik yang demikian, jelas tidak mungkin akan tercipta sebuah negeri yang di cita-citakan para pendiri negeri ini. Kader-kader bangsa yang dilahirkan oleh parpol adalah kader yang dididik dengan tidak sehat baik dalam internal parpol maupun dalam sebuah struktur kelembagaan. Pola-pola perebutan kekuasaan oleh kader partai politik dengan segala macam cara bahkan sudah menjadi sesuatu yang wajar di tengah kehidupan masyarakat.  

Masyarakat yang sudah sangat pasif terhadap hal-hal yang seharusnya dibenahi membuat kehidupan berbangsa di negeri ini berjalan dengan sikap saling memaklumi walaupun dengan kejahatan. Kejahatan yang terorganisir terjadi dimana-mana tanpa ada titik terang dalam pengungkapannya. Para penegak hukum terkesan hanya makan gaji buta  tanpa dapat berbuat sesuatu yang lebih besar dalam mengurangi tingkat kejahatan, bahkan mereka sendiri sudah menjadi bagian dari kejahatan terorganisir tersebut dengan mafia peradilannya.  Pihak kepolisian yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat, dalam menjalankan tugas pokoknya masih saja bersifat diskriminatif terhadap masyarakat padahal negeri kita ini sudah bukan lagi negri kerajaan yang terbagi dalam beberapa kelas. Bukannya menjadi pengayom masyarakat malah menjadi penggayang masyarakat.  Lain halnya dengan pihak kejaksaan,  proses-proses hukum yang seharusnya berjalan sesuai dengan peraturan malah menjadi lahan proyek dengan memutar balikan fakta baik dalam surat dakwaan maupun surat tuntutan ataupun surat-surat yang lain yang jadi penentu keadilan bagi masyarakat.  Parahnya lagi di lembaga seperti pengadilan yang merupakan benteng terakhir para pencari keadilan, proses-proses berbau korupsi,kolusi dan nepotisme menjadi sesuatu yang telah menggerogoti institusi keadilan ini. 

Dengan banyaknya penyakit yang menjangkiti para penegak hukum tersebut bagaimana mungkin cita-cita supremasi hukum dapat tercapai. Supremasi hukum seharusnya menjadi hal yang mungkin terjadi dalam negara berdasarkan hukum ini, namun hukum berada di bayang – bayang kekuasaan politik dan ekonomi. Masyarakat tidak mampu berbuat banyak melihat hal ini oleh karena itu perlu sebuah perubahan yang berasal dari sebuah aspirasi/ pergerakan masyarakat yang secara sadar menginginkanya.   

Namun  apalah lagi artinya sebuah keadilan politik bagi masyarakat tanpa adanya keadilan ekonomi. Ketidakadilan ekonomi akibat keserakahn sistem di negeri ini membuat kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat emakin berkembang luas, kesenjangan social bukan hanya berbahaya karena berakibat timbulnya
penyakit-penyakit sosial tetapi juga bahaya terhadap ketahanan nasional suatu negara.  Keamanan nasional suatu negeri dapat terancam akibat semakin parahnya kesenjangan sosial yang terjadi.

Dengan hal tersebut dapat terjadi sebuah polemik sosial dimana rasa tidak puas dari masyarakat dilampiaskan dengan sebuah pergerakan sosial untuk melakukan sebuah perubahan sosial yang tentunya berakibat langsung terhadap perubahan politik/kekuasaan. Dengan berbagai macam persoalan bangsa seperti yang sudah dikemukakan diatas, mahasiswa sebagai kader intelektual bangsa harus mampu memberikan sebuah solusi konkrit yang dapat jadi multivitamin bangsa ini kearah yang lebih baik.  Mahasiswa sebagai agen perubahan dan agen control sosial menjadi garda terdepan dalam menghadang semua hal-hal yang mampu menghancurkan keutuhan bangsa ini.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa dengan keilmuan yang diperolehnya di bangku perkuliahan dapat di aplikasikannya dalam kehidupan seluas-luasnya di luar dunia kampus.  Sebagai agen kontrol, mahasiswa baik sebagai individu maupun kelompok dalam hal ini lembaga – lembaga kemahasiswaan baik intra maupun ekstra kampus menjadi sebuah pengawas /pengontrol yang tentunya independen  dalam mengontrol kebijakan-kebijakan publik dan penguasa.  Mahasiswa saat ini bukan hanya menjadi kader intelektual tetapi juga menjadi kader politik, serta kader-kader sosial yangmenjadi salah salah satu modal besar bagi investasi jangka panjang buat bangsa. Untuk menciptakan kader-kader tersebut, dunia kampus  harus bersih dari segala kepentingan yang dapat merusak independensi mahasiswa.

                                                                                                   @MHS’12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Waris Perdata

HAK-HAK ATAS TANAH MENURUT UUPA DAN PP. NO.40/1996

SISTEM ADMINISTRASI DAN TATA KELOLA KANTOR NOTARIS. [1]