Mudik ALA Backpacker

Ramadhan sudah memasuki masa-masa akhirnya, rasa kehilangan akan ramadhan tentunya akan menghinggapi kita yang melaksanakan, sejalan dengan rasa kehilangan tersebut rasa gembira juga datang dengan semakin dekatnya hari kemenangan yang merupakan hari raya buat semua umat islam di dunia setelah sebula lamanya menjalankan ibadah puasa.

Sudah berjalan 21 hari saya melaksanakan ibadah puasa, ibadah puasa yang dilaksanakan di daerah orang lain bersama sama dengan teman2 satu kosan (maklum mahasiswa). Cukup banyak cerita selama menjalani ibadah puasa bersama. Namun yang menarik diakhir ramadhan ini adalah kebiasaan atau budaya mudik/pulkam (pulang kampong) untuk berlebaran bersama keluarga.

Mudik ini sudah merupakan hal yang menjadi sorotan di masa-masa mendekati hari raya tersebut, bahkan banyak juga yang menganggapnya sebagai suatu “kewajiban”. Bagi para pekerja ataupun pelajar/mahasiswa yang bersekolah jauh dari orang tua ataupun keluarga atau biasa disebut perantau tentunya mudik menjadi sebuah hari yang ditunggu-tunggu karena akan bertemu dengan keluarga.

Sama juga dengan apa yang saya rasakan setelah tahun kemarin tidak pulang ke kampong halaman untuk berlebaran bersama keluarga, lebaran tahun ini saya sudah rencanakan harus pulang. Teman-teman juga sudah ada beberapa yang telah menuju kampung halamannya masing-masing, seperti yang telah saya rencanakan sebelumnya, kepulangan saya tuk berlebaran saya sudah tetapkan pada pertengahan puasa. Sebelum pulang saya juga berencana membeli beberapa bingkisan buat lebaran. Manusia yang berencana Tuhan yang menentukan. Kalimat ini cukup pas untuk tulisan ini.

Setelah perencanaan tersebut, ramadhan yang sudah mendekati pertengahan berarti saya juga sudah harus bersiap, sisa tabungan juga sudah dihitung, dan ternyata cukup tuk sampai di kampung halaman dan buat beli beberapa bingkisan tuk hadiah lebaran. Sebelumnya saya juga sempat menghubungi orang tua tuk minta tambahan (maklum saya mahasiswa alias pengangguran ).

Selama mempersiapkan hari keberangkatan, salah satu teman kuliah saya dulu di Kendari singgah di Makassar, dia baru saja dari Bandung dan sekarang transit di Makassar bersama salah satu keluarganya. Teman tersebut akhirnya bertandang ke tempat kontrakan saya tuk “temu kangen” sambil berbuka bersama dirumah. Teman tersebut rencananya masih akan berada di Makassar selama beberapa hari, akren lagi menunggu Mobil yang mereka kapalkan dari Bandung. Dia berencana tuk berlebaran di Kendari, tapi akan pulang dengan menyebrangkan mobil nya alias lewat darat.
Seperti sebuah berkah di bulan Ramadhan mendengar rencana tersebut saya juga minta izin tuk ikut bersamanya, dan ia pun setuju. Perjalanan darat dari Makassar menuju kendari memang cukup memakan waktu yang banyak namun perjalanan tentu tidak bosan karena kita bisa menikmati pemandangan alam selama perjalanan dan kehidupan masyarakat yang kita lewati.

Perjalanan mudik ini memang tidak direncanakan juga oleh sebab itu saya merasa layaknya sebagai perjalanan sebagai backpacker. Perjalanan dimulai setelah sahur dan kami singgah shalat subuh di salah satu SPBU yang masih terletak di Kota Makasar. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami kembali yang tujuannya adalah menuju Pelabuhan Penyebrangan Ferry Bajoe yang terletak di Kabupaten Bone, perjalanan dari Makassar menuju Bone kami tempuh sekitar 4 jam, dan yang bikin seru campur tegang karena kami semua yang berada di perjalanan ini tidak ada yang kenal medan alias tidak tahu jalur menuju kesana, saya juga sudah beberapa kali melewati jalur itu tapi tidak memperhatikan jalan karena ada yang tahu jalannya, walaupun “agak sedikit” kenal dengan jalurnya namun perjalanan kali ini jika ada yang ragu ragu ya langsung Tanya saja kepada penduduk sekitar, dan tipsnya juga ikut mobil yang searah sana (awas salah ikut), samapai di pusat kota Bone juga jalan menuju Pelabuhan harus bertanya.

Akhirnya sampai juga di Pelabuhan Penyebrangan Bajoe dan masih sempat tuk dapat kapal pertama yang berangkat hari ini. Perjalanan melalui kapal fery memakan waktu sekitar 8 jam perjalanan, kami berangkat tepat pukul 11.00 WITA. Karena memang masih merupakan bulan ramadhan dan juga belum merupakan waktu mudik, jadi penumpang di kapal masih sedikit, jadi cukup leluasa juga di kapal, karena kurangnya penumpang.

Perjalanan melalui kapal apalagi dalam kondisi puasa ditambah dengan siang hari yang terik (dinginnya.,.,) tentu saja kami habiskan dengan tiduuuuuur (kebetulan di bulan puasa ini jadi ibadah juga), bangun hanya tuk melaksanakan shalat. Dan suasana penuh keakraban juga tercipta pada saat waktu berbuka puasa bersama dengan para penumpang kapal yang lain, walaupun dengan makanan berbuka yang cukup sederhana tapi cukup membuat menghilangkan dahaga selama berpuasa.

Perjalan dilaut tidak terasa ditengah keakraban para penumpang, pelabuhan kolaka sudah di depan mata. Perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya bisa terobati setelah melihat pelabuhan. Rasa rindu dengan keluarga, senyum sumringah dari para penumpang karena telah tiba adalah kondisi yang terlihat setelah kapal bersandar dengan gagahnya di dermaga.

Selamat sampai tujuan buat para penumpang yang lain, dan saya masih harus meneruskan perjalanan menuju kota kendari. :)

#Hidup adalah perjalanan menuju tujuan yang sesungguhnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Waris Perdata

HAK-HAK ATAS TANAH MENURUT UUPA DAN PP. NO.40/1996

SISTEM ADMINISTRASI DAN TATA KELOLA KANTOR NOTARIS. [1]