Ilmu Vs Nilai


Semester yang berjalan sudah hampir terlewati, hari ini adalah hari terakhir jadwal dari ujian semester walaupun masih ada tugas yang harus di kumpul minggu depan yang sdh akan masuk bulan puasa. Akhir semester membuat pikiran jadi fresh kembali seperti lepasnya beban yang di pikul. Kali ini memang cukup berbeda karena sekarang adalah semester kedua di kampus ini. Jadi jika masalah ujian seharusnya sudah tidak membuat tegang lagi kraena di semester awalkan sudah pernah di lewati dan dengan nilai yang Alhamdulillah cukup baik (tapi ada juga remedialnyaaa) .

Semester ini semoga saja juga berjalan dengan baik walaupun masih agak ragu juga tehadap nilai dari mata kuliah yang memang menjadi momok di semester ini, grrrr., akhir semester juga bertepatan dengan awal ramadhan. Rencana pulang ke “kampoeng” juga sudah di persiapkan semoga terlaksana dan tidak ada kendala tapi setelah hasil semester ini sudah keluar, biar dalam melaksanakan ibadah tidak terganggu karena meunggu nilai.

Bicara mengenai nilai kuliah ataupun kita bicara nilai dalam proses pendidikan, ada hal yang patut di perbincangkan yang menurut saya menjadi penting sekali, karena inilah yang memang selalu menjadi perbincangan atau pergolakan jika secara ekstrem dapat dikatakan begitu.

Dari zaman dulu, orang sudah sekolah. Mulai dari zaman dimana batu buat nulis dan belajar, bawa buku cetak yang berat dan tebal sampai sekarang, bawa laptop karena teknologi sudah berkembang. Dari dulu sampai sekarang juga katanya sekolah itu biar kita jadi pintar.

Tapi ternyata, banyak dari kita sendiri sebagai pelajar sekarang lebih khawatir sama nilai daripada ilmu yang didapat. Apakah ini pengaruh tuntutan dari standar kelulusan dengan nilaiyang cukup tinggi . Nah, lama-lama jadi pikiran anak sekolahan, akhirnya nilai yang jadi prioritas utama. Nggak lagi soal ilmu yang didapat. Yang ada di pikiran cuma yang penting dapat nilai yang tinggi, apapun caranya, termasuk cara pintas dengan mencontek atau tanya teman saat ujian, ulangan atau tugas.

Jika ada pertanyaan untuk memilih ilmu atau nilai, dan jika ada jawaban bahwa saya memilih ilmu, hal tersebut kadang menjadi cibiran atau ejekan, sok idealis pasti pikiran orang-orang terhadap jawaban tersebut. Namun ketika kita menjawab pertanyaan tersebut dengan menjawab bahwa kita memilih nilai (dan jawaban ini tentunya sah-sah saja dijawab, tidak ada yang salah) tidak tahu, gimana tanggapan orang, belum saya lakukan penelitian soalnya (perlu di teliti kah ?)

Bagi mahasiswa yang benar-benar ingin mencari ilmu pasti akan merasa puas jika telah mendapatkan sebuah pengetahuan meskipun saat ujian mereka mendapatkan nilai yang standar. Berbeda lagi bagi mahasiswa pengejar nilai, mereka hanya akan puas jika mendapatkan nilai paling tinggi tetapi merasa terpukul bahkan stress jika mendapatkan nilai yang jelek. Selain itu, para pengejar nilai juga kurang bersosialisasi dengan mahasiswa lain, karena mereka sangat selektif dan cenderung hanya mau berteman dengan beberapa orang saja. Bahkan ada juga tipe pengejar nilai yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh angka-angka tertinggi dalam ujian.

Padahal seperti yang kita ketahui, nilai didapat ketika kita bisa mengerjakan soal-soal yang diujikan. Tentu saja soal-soal yang diujikan tidak semua materi tertera dalam soal. Namun faktanya, tidak semua mahasiswa yang kompeten mendapatkan nilai yang bagus karena yang berjaya dalam ujianlah yang bisa memperolehnya.
Begitulah jika sebuah formalitas diatas kertas yang masih dianggap sebagai ukuran untuk menentukan kemapuan mahasiswa. Oleh karna itu janganlah menyalahkan jika di negara ini masih dipenuhi oleh para koruptor, karena saat menuntut ilmu mereka sudah terbiasa mencari nilai dengan berbagai cara. Sehingga mereka belajar hanya untuk mencari sebuah angka-angka yang dapat membantunya dalam memperoleh pekerjaan yang layak.

Terus kalau sudah kayak gini yang terjadi, ilmunya buat apa coba? Padahal yang kita butuhkan itu adalah ilmunya kalau sekolah. Pertanyaan seperti ini dengan enteng dijawab dengan, nanti saja kalau sudah kerja atau apalah baru belajar atau baca buku lagi, nanti ilmunya datang dengan sendiri (Hebat juga.,haha).
Jadi silahkan pilih ., kirim ke mana saja :D



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Waris Perdata

HAK-HAK ATAS TANAH MENURUT UUPA DAN PP. NO.40/1996

SISTEM ADMINISTRASI DAN TATA KELOLA KANTOR NOTARIS. [1]