Konosuke Matsushita, Pegawai Toko Sepeda Yang Menjadi Raja Elektrik Jepang

Konosuke Matsushita lahir tahun 1894 di Desa Wasa, Wakayama, Jepang. Saat dia berusia 16 tahun dia bekerja di Osaka Electric Light Company. Tahun 1915 dia kimpoi dengan Mumeno Iue. Pada usia 23 dia mendirikan perusahaan Matsuhita Electric Appliance Factory dengan 3 orang karyawan (dia, istrinya, dan adik istri).
Merk yang dipakai Matsuhita adalah ‘National’. Tahun 1947 dia mengijinkan adik iparnya untuk mendirikan Sanyo Electric. Tahun 1954 dia mendukung perusahaan JVC. Konosuke wafat 27 April 1989 dengan meninggalkan kekayaan pribadi US$3 billion dan aset perusahaan senilai US$42billion.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kehidupan Konosuke Matsushita:



Banyak hal yang pada awalnya tidak berjalan sesuai dengan rencana, tapi kalau terus berusaha dan tidak menyerah, pasti ada jalan keluar lainnya.
Tidak ada seorangpun yang hidup tanpa masalah dan tanpa rasa bimbang.
Hidup manusia dikatakan sempurna setelah ia menghadapi berbagai permasalahan dan dapat mengatasi permasalahan.
Sebaiknya kita mencoba mendengar pendapat orang lain tentang sesuatu hal walaupun kita sudah tahu tentang masalah itu.
Kita harus mendengarkan pendapat orang lain itu dengan tulus, karena hal itu akan menambah pengetahuan kita dan menjadikan kita lebih bijaksana.
Tiga kata (PHP) yang diidamkan setiap orang: peace (perdamaian), happyness (kebahagiaan), dan prosperity (kemakmuran).
Kalau kita jual barang yang diinginkan oleh masyarakat banyak dengan harga yang
terjangkau dan kualitas yang baik, bisa dipastikan barang itu laku.
Semakin banyak orang yang tidak berani menggunakan uangnya, akibatnya resesi ini akan bertambah buruk.
Kita harus selalu mempunyai cita-cita yang lebih besar setelah cita-cita kita yang lain tercapai, dan kita harus selalu berusaha untuk mencapai cita-cita kita.
Cerita Konosuke :

Pada suatu hari, ketika Jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang peminta-minta ke sebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli manju (kue Jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai).

Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu jauh sederhana di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-buru ia membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya”. Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan itu kepada si pengemis.

Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan anda”.

Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, “Mengapa harus anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli”.

Si pemilik toko itu berkata, “Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”

“Mengapa lain,” tanya pelayan. “Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat panting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya”, demikian penjelasan sang pemilik toko.

Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan.

Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.

Kesuksesan itu 99% hasil keringat, hanya 1% saja yang digoreskan takdir….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Waris Perdata

HAK-HAK ATAS TANAH MENURUT UUPA DAN PP. NO.40/1996

SISTEM ADMINISTRASI DAN TATA KELOLA KANTOR NOTARIS. [1]