Malam Kembali Mencerahkan kita Smua

Bicara tentang pencerahan, aneh juga kenapa harus membahas hal ini karena bicara tentang pencerahan terasa kitalah yang paling “baik”, atau kitalah yang paling “hebat”, atau kitalah yang paling “bersih”. Tapi dalam tulisan ini kayaknya saya bukan bermaksud untuk memberikan nasehat atau memberikan petuah-petuah layaknya orang-orang yang selalu disebut para pencerah.


Di tulisan ini saya hanya memberikan sedikit hal yang saya anggap sesuatu yang perlu saya tulis karena bagi saya hal tersebut adalah penting buat saya (tidak tahu buat yang lain). Berawal dari telepon seorang teman lama, sambil berbasa basi bertanya tentang kabar dan keadaan serta kegiatan yang dilakoninya saat ini perbincangan hangata kemudian berlanjut ke hal yang akhirnya menuntun saya untuk menulis tulisan ini.




Seorang rakyat biasa memberikan “kepercayaannya” kepada pemerintah untuk melayaninya dalam kehidupannya di lingkungan masyarakat. Tapi hal ini kadangkala menjadi pemberian kepercayaan yang sia-sia karena pemerintah juga kadangkala mengabaikannya. Sebagaimana seharusnya seorang pemimpin yang seharusnya memberikan harapan buat rakyatnya dalam menjalani kehidupannya yang penuh dengan perjuangan (bagi sebagian orang mungkin..). aspirasi yang bisa juga disebut curhat dari rakyat hanya menjadi bahan obrolan atau gosp saja buat mereka. Aspirasi ini hanya di tampung dan menjadi janji-janji tuk dibahas saja di kalangan mereka, janji yang selalu menjadi penantian dari rakyatnya. Harapan rakyat pada dasarnya bagaimana kepentingan mereka baik itu secara pribadi ataupun kelompok dapat tersalurkan dengan baik dan tidak menggangu kepentingan orang lain pula.


Berawal dari penyaluran aspirasi rakyat kita dapat melihat bagaiman sebuah pemimpin yang baik dalam mengelola aspirasi rakyat yang dipimpinnya dalam sebuah organisasi pemerintahan. Bagi saya organisasi pemerintahan kalau mau belajar secara lebih dekat ada pada kehidupan kita, kita dapa secara langsung melihat proses tersebut dalam sebuah organisasi pemerintahan “awal” dan “terkecil” yaitu dalam sebuah keluarga, dari keluargalah kita belajar kepemimpina dalam mengelola orang yang kita pimpin, bagaimana seorang kepala keluarga melayani keluarganya dengan tulus dan berusaha sekuat tenaganya dalam memberikan yang terbaik buat keluarganya. Prinsip-prinsip dalam keluarga tersebut dapat di manifestasikan dalam sebuah organisasi yang lebih besar tentunya.


Dari perbincangan mengenai aspirasi terus berlanjut kepada kepemimpinan perbincangan selanjutnya beralih pada objek pembicaraan yang menurut saya cukup asyik tuk dibahas (asyik sekalii), pencerahan. Mencerahkan orang-orang yang tidak tercerahkan. Ini pembahasan kami. Tapi pada dasarnya yang dimaksufd orang-orang yang tidak tercerahkan itu tergantung pada pemahaman kita masing-masing, dari perbincangan kami saya berpendapat bahwa bukan hanya orang-orang yang “merasa” tercerahkan yang dapat memberikan pemhaman kepada orang-orang yang belum tercerahkan namun dapat juga sebaliknya bahwa kita dapat mengambi pelajaran dari mereka.


Pencerahan yang dilakukan ditempat yang sudah “cerah” tentu saja dapat dianggap hal yang mubazir karena dapat dianggap mubazir atau membuang waktu namun tentu saja tidak dapat dianggap kesia-siaan, karena ada baiknya kita melakukan pencerahan di tempat yang “gelap” (mati lampu) atau di tempat yang semi terang (ada ??), lebih terasa menantang tentunya, bagi yang suka dengan kondisi yang menantang tentunya.

Mari menjadi orang-orang yang mampu mencerahkan dan memimpin buat pencerahan…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Waris Perdata

HAK-HAK ATAS TANAH MENURUT UUPA DAN PP. NO.40/1996

SISTEM ADMINISTRASI DAN TATA KELOLA KANTOR NOTARIS. [1]